• Gunung Bromo - Jawa Timur


    Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat).
    Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.


     





    Bromo dari Penanjakan 1

    Legenda menyebutkan dahulu kala ada seorang gadis yang tinggal di desa makmur di dekat Gunung Bromo. Namanya Rara Anteng. Dia sangat cantik, ramah, sederhana, dan rajin. Dia menikah dengan pria muda. Namanya Jaka Seger. Rara Anteng dan Jaka Seger adalah pasangan bahagia tetapi mereka tidak mempunyai anak. Karena itu, mereka berdoa kepada Tuhan. Tak lama muncul seorang tua dan berkata, “kamu akan memiliki duapuluh lima anak, tetapi kamu harus mengorbankan anak laki-lakimu yang paling kecil/muda”.

     
    Bromo Dari Penanjakan II

    Beberapa bulan kemudian Rara Anteng diberi hadiah seorang bayi. Mereka sangat senang. Setelah beberapa tahun mereka sudah memiliki duapuluh lima anak. Yang paling kecil/muda bernama Warih Kusuma. Suatu malam Jaka Seger ingat dengan pesan kakek tua dan berbicara kepada istrinya. Setelah itu mereka menuju ke kawah Gunung Bromo untuk berdoa kepada Tuhan karena mereka tidak dapat mengorbankan Warih Kusuma. Seketika itu juga langit menjadi hitam dan mereka mendengar suara petir. Mereka lari menjahui kawah gunung.


    Bromo Seruni View

    Setelah petir sudah reda, Warih Kusuma menghilang. Mereka mendengar suara Warih Kusuma dari dalam kawah,”Tolong, relakan saya tapi berikan persembahan setiap tahun”. Akhirnya, Rara Anteng dan Jaka Seger merelakan Warih Kusuma. Nama Tengger diambil dari Rara Anteng dan Jaka Seger, sejak saat itu orang-orang Tengger selalu memberikan persembahan hewan ternak dan hasil pertanian di upacara Kasodo.


    2 komentar: